Kamis, 19 Januari 2017

CERPEN PERJUANGAN HIDUP: DOA dan KEMBALI






Hasil gambar untuk DOA

DOA dan KEMBALI
Karya: Rifki Ulul Azmi
Pagi ahad yang cerah, seperti biasanya aku harus melaksanakan tugas rutinku di tiap hari libur ini. Pakaian yang kotor harus selesai ku cuci hari ini juga. aku rehan manusia yang  besar tanpa belaian kasih kedua orangtua ku. Mereka yang berpisah sejak aku belia, waktu itu aku berusia6 tahun. Usia yang terlalu rentan menyaksikan pertengkaran kedua orangtua ku yang hampir setiap hari ku saksikan itu dan pada akhirnya berujung perpisahan. Kini aku sudah berhasil menginjakan langkahku di gelar alumni pada salah satu sekolah menengah kejuruan swasta di kota ku. Aku berhasil lulus dengan hasil yang cukup memuaskan. Mungkin ini bukanlah gelar yang teristimewa bagi sebagian orang tetapi lain halnya dengan diri ku. Aku hidup dan dibesarkan oleh nenek ku, beliau sudah sangat tua dan tidak memumgkinkan lagi untuk bekerja. Selama aku sekolah dahulu, semaksimal mungkin aku tidak ingin menyusahkan nenekku yang sudah susah payah memberiku makan, merawatku dan mendidikku.Saat ini nenekku berusia 78tahun. Namun kesehatannya masih terjaga dengan baik, hal itu yang membuatku selalu bersyukur dengan keadaanku saat ini.
Cahaya mentari perlahan menghangatkan punggungku, rimbun daun kelapa pun enggan lagi meneduhkanku, ini menandakan hari semakin siang. Namun pekerjaankubelum tuntas juga. Kini yang harus ku cuci pakain nenekku, meski nenek dalam keadaan sehat tetapi ini adalah bentuk terima kasihku kepadanya meski ini tak kan bisa membalas semua jasa-jasa nenek selama ini setelah orang tuaku berpisah. Aku di serahkan kepada nenekku setelah kejadian dasyat dirumahku yang membuat kedua orangtuaku berpisah. Aku mulai tinggal di rumah nenekku setelah ibuku memutuskan untuk kerja di luar negeri dan ayahku entah kemana perginya, sampai saat ini pun aku belum tahu keberadaan ayahku dimana.Sedangkan ibu ku haya bisa pulang satu tahun sekali. Tentunya ini sangat memberatkanku saat itu terlebih lagi baginenek ku.Selama aku sekolah aku berusaha tidak terlalu menyusahkan nenek ku. Terkadang aku jualan gambar hasil kerja tanganku sendiri kepada teman-temanku di kampung dan di sekolah. Kadang pula aku berjualan makanan ringan ke teman temanku di sekolah, kadang juga aku pergi memungut bersama mamangku. Pekerjaan itu aku jalani dengan penuh keikhlasan karena keinginanlerasku untuk meringankan beban nenek.
Selagi tanganku sibuk mencuci baju-baju kotor tadi, pikiranku terus berkutat pada kisah masa kecilku yang penuh ironi. Sekarang aku sudah punya sediit modal dan hasil dari kerja kerasku selama ini, selembar ijazah yang sedikit banyaknya dapat membantuku menaikan tarap ekonomi keluargaku, sehingga nenek bisa tenang beribadah di hari tuanya dan ibuku bisa kembali ke rumah tanpa harus pergi lagi keluar negeri. Meski aku pun sadari bahwa nilai lulusan SMA di negeri ini tidak cukup di pandang baik, tetapi selagi nafasku masih berhembus aku akan terus berikhtiar mencari kerja yang layak. Hari-hari kemarin ku sibukan dengan mempersiapkan semua berkas-berkas diriku sehingga dapat menunjang kemungkinan besar ku di terima di suatu perusahaan. Besok pagi aku bermaksud memulai perjalananku mencari kerja karena ini adalah jalan satu-satunya saat ini bagiku untuk dapat memperbaiki ekonomi keluargaku.
“han dari tadi belum beres-beres!” seketika terdengar suara perempuan paruh baya yang hendak mengambil air. Karena memang selain di gunakan untuk mencuci pakaian mata air ini juga di manfaatkan untuk minum sehari-hari warga kampung. letaknya tidak jauh dari belakang rumah nenekku. “Iya bu, cuciannya lumayan banyak dari biasanya bu” tungkasku, sambil terus tanganku sibuk dengan tugasnya. “mau ibu bantuin?” ibu iis namamya, beliau tetangga terdekatku,beliau memang sangat baik kepada nenek dan aku. Terkadang ketika nenek sedang tidak punya pangan untuk makan hari ini, ibu iis ini yang suka membantu entah itu berupa makanan maupun uang.”eh iya han, kemarin ibu sempat lihat bapak mu, walaupun ibu juga masih ragu dengan penglihatan ibu saat itu” tentunya pernyataan bu iis itu cukup mengejutkamku. “oh yaa.. Ibu liat Dimana?” sambutku dengan penuh penasaran. “Ibu liat di persimpangan jalan yang mau kepasar itu.. Han” jelas bu iis, “oh disitu, iya terimakasih bu atas infonya”. “iya han, semoga kamu bisa ketemu sama bapak lagi ya” kalimat itu seolah membangkitkan keinginanku untuk bertemu bapak, “Ya udah, ibu duluan ya” sambil mengangkat seember airnya lalu pergi dan hilang di telan bilik-bilik penutup toilet umum ini.
~~||~~
Hasil gambar untuk HUJAN DAN DAUN PISANG
Add caption
Senin pagi yang hujan, cuaca saat ini memang tak tentu. Namun tidak menyurutkan niatku untuk mencari pekerjaan pagi ini. Dengan dibalut harapan yang kuat semoga di perjalanan nanti aku bisa bertemu atau hanya sekadar melihat bapakku. Sementara itu nenek sedang menyiapkan sarapanku walau hanya sekadar ubi rebus ini sudah cukup bagiku untuk menamnah energiku pagi ini, “nek, hari ini rehan mau cari kerja” ucapku sambil mengambil makanan yang sudah nenek sediakan. “iya han, semoga kamu cepet dapat kerja ya, ingat harus cari pekerjaan yang halal” itu jawab sekaligus nasihat dari nenek. tentunya itu yang akan selalu ku pegang selama ikhriarku ini. Hujan pagi ini menghantarkan ku kepusat keramain kota, namun sejajar dengan keberhasilanku sampai di pusat kota ini, usaha yang cukup melelahkan di perjalanan tadi, di bawah hantaman hujan aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak basah kuyup begitu pun aku harus melindungi berkas-berkas dalam tas ku agar tidak basah juga.  Bermodalkan daun pisang sebagai alat peneduh aku terus melangkah tak jarang juga aku berlari dan meneduh sejenak. Jarak rumah nenekku dengan jalan raya cukup jauh sekitar satu kilometer. Dalam jarak itu aku terus berusaha melangkah tanpa basah kuyup.
Manusia dari berbaga latar belakang berkumpul disini dari berbagai profesi berada disini tujuannya satu mencari menghidupan sehingga keluarganya di rumah hidup layak. Begitupun dengan diriku yang sedang berusa mencari hal demikian, hidup layak sehingga aku bisa membahagiakan nenek di hari tuanya. Langkahku belum berhenti di pusat kota ini, bersyukur hujan reda semenjak aku menginjakan kaki di tempat keramain ini. Setiap perusahaan yang kukira cocok di bidangku (marketing) kujajaki surat lamaran dan menawarkan diri untuk bekerja di perusahaan itu. Satu persatu perusahaan telah ku lewati namun apa daya belum ada yang mau menerima lamaran ku. Namun masih ada harapan bagiku beberapa perusahaan yang aku masuki tadi memilih untuk menunda lamaranku sehingga ketika nanti ada lowongan aku bisa di hubungi lagi, dan untuk nomor pensel aku cantumkan nomor ponsel temanku. Hari mulai siang tetapi aku masih enggan mengahkiri usahaku ini, aku tetap berjalan hingga sampai di suatu perusahaan air mineral. Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju perusahaan itu dan berkonsultasi dengan bagian penerimaan tamu untuk mengutarakan maksud dan tujuan ku kesini. Di tengah percakapanku, aku melihat pria paruh baya dengan pakaian yang rapi di balut dengan dasi dan jas hitam selaras dengan celana bahan hitam dan di bawahnya mengkilap sepatu kantor yang hitam pekat, rambutnya rapih dengan tangan kiri membawa tas kerjanya sedangkan tangan kanannya menggenggam ponsel yang ia letakan di sebelah telinga kanannya, ia berjalan dengan tergesa-gesa, terlihat ia sangat terburu-buru, sampai-sampai ia tak menghiraukan orang-orang di aekitatnya, wajahnya yang panik sambil berbicara dengan ponselnya. Tentunya aku tidak begitu saja lupa dengan sosok kedua orang tuaku terlebih ayahku. Meski sangat lama tidak berjumpa sekitar 13 tahun lamanya, aku masih sangat ingat seluk beluk wajah ayahku dan tidak salah lagi pria yang melintas dengan tergesa-gesa tadi itu adalah sosok ayahku. Spontan aku langsung mengejarnya laluaku memanggilnya “pak?”  beliau mengatakan “maaf, kami sedang tidak menerima lamaran kerja” tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, lalu beliau masuk ke mobil yang sudah menantinya itu. Aku kembali ke tempat semula dengan perasaan yang cukup kecewa dan bertanya kepada bagian penerimaan tamu itu lebih baik bagiku saat ini untuk memastikan bahwa beliau memang benar ayah ku. Setelah beberapa pertanyaan ku lontarkan, jelas susah siapa beliau dan dugaanku benar tidak salah, beliau adalah ayahku dan beliau pemiliki saham terbesar di perusahaan itu.
Kepedihan yang kualami dalam hari-hariku selama ini, kesepian yang merenggut bahagiaku selama ini, dan kerinduan yang menggelora dengan sosok sang ayah akan terlampiaskan sebentar lagi. Mungkin esok hari aku akan benar-benar bertemu.
~~||~~
Hari ini adalah hari yang kelima kalinya aku berusaha menemui ayahku. Hari-hari bersama hujan ku lalui keberangkatan ku dari rumah. Seperti biasanya aku mengambil daun pisang untuk ku jadikan alat peneduh perjalanannku. Rupanya hari ini pun aku tidak melihat tanda-tanda bahwa ayahku ada disini. Setelah aku menaanyakan kebagian penerimaan tamu, begitu terkejut sekaligus bahagianya aku ketika mendengar jawaban bahwa ayahku ada di ruang kerjanya. Perjuanganku tidak sia-sia, “Alhamdulillah” lirih dalam hatiku. Namun seketika setelah dihubungi “mohon maaf, pak indra sedang tidak bisa di ganggu, beliau sedang sibuk” ucapan itu seakan memutar balikan perasaanku. Tanpa menghiraukan perkataan itu, aku nekat menerobos masuk meski aku tahu resiko yang akan aku alami dua orang satpam mengejarku dan coba menghentikan langkahku, ku terus terobos semua yang menghalangiku, entah angin dari mana aku bisa maauk tepat ruang kerja ayahku, padahal aku tidak tahu sama sekali ruang kerjanya. Inilah mungkin insting seorang anak walau dalam keadaan panik sekalipun. Sesampainya di ruangan itu, aku terdiam seketika yang kulihat dihadapnku ini memang jelas sekali ini ayahku. Sedangkan dari samping kiri kananku kedua satpam itu berusaha menarikku keluar. “sudah biarkan dia disini” kata sang ayah. “Kamu bersikeras sekali ya, sudah saya bilang disini sedang tidak ada lowongan kerja” sontak ucapan itu menundukan ku, “sebenarnya apa yang terjadi? Apa ayah audah lupa aku, atau dia sengaja tidak ingin mengenaliku?” berbagai pertanyaan terlontar di benakku. “AYAH” tak sengaja aku berucap. “apa?” ucap ayahku sedikit terkejut. “aku rehan yah” jawabku. “siapa rehan?” tanyanya yang keheranan. “aku anakmu, apakaulupa?” kini tidak ada jawaban sama sekali yang ada beliau meremas-remas kepala dengan kedua tangannya. Ini menandakan kalau beliau sedang dalam kesakitan. Aku coba mendekat dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Namun seketika beliau berucap “cukup” dengan nada kelakarnya. Lalu beliau dengan suara lantangnya memanggil satpam tadi yang ternyata masih berdiri dibaik pintu ruangan. “satpam!” masih dalam keadaan tangan meremas-remas kepalanya. “tarik keluar dia” sambil menunjuk kearahku. Kedua satpam itu menarikku keluar dan menyeretku kuluar kantor itu. Namun aku masih ada harapan untuk kembai bertanya kebagian penerimaan tamu, setelah ku jelaskan kepada kedua satpam itu akhirnya aku dipersilakan. Setelah beberapa pertanyaan ku lontarkan, akhirnya aku mendapat jawaban yang sangat jelas. Bahwa ayahku Mengalami kecelakaan yang sangat dahsyat sehingga benturan terhadap kepalanya membuat ingatannya terganggu. Inilah yang membuat ayahku sukses saat ini karena pemberian modal dari orang yang !enabraknya itu.
Aku pulang dengan beragam perasaan yang bercampur dijiwaku.
“nek, rehan sudah ketemu ayah tetapi dia tidak mengenalirehan nek” setelah panjang lebar aku jelaskan akhirnya nenek paham seraya berucap “ iya han, rehan yang sabar, suatu saat nanti pasti ayahmu akan pulih dan ingat kembali masa lalunya”. Nasihat itu lagi lagi membangkitkanku “ iya nek”.
~~||~~
Hari ini adalah hari ke enam kalinya aku ketempat ini. Ada yang berbeda dengan keadaan saat ini.  seharusnya aku di usir karena aku datang kembali setelah kejadian itu. Namun pak satpam pun biasa saja. Aku sambut positif hal ini, mungkin ini doa-doa yang selalu nenek panjatkan dalam tahajudnya. Malahan pak satpam mempersilahkan aku masuk dan mengantarku masuk keruang kerja ayahku. Tentunya ini hal yang sangat janggal bagiku. “silakan duduk” ucap peria berkemeja putih ini. “maafkan saya atas kejadian kemarin, sekararang tolong bantu saya untuk mengingat masa lalu saya!” setelah aku duduk tenang. Aku paham keadaan ini, kejadian kemarin sedikit banyaknya berdampak positif pada ingat ayahku. “tolong berceritalah nak!”, lalu aku coba ceritakan rentetan kisah dan peristiwa yang pernah terjadi antara aku, ayah, ibu dan keluargaku dahulu. Seusai bercerita sampai kami melewatkan beberapa jam duduk bercerita di ruang kerja ayahku itu. Sedangkan ayahku kini baik-baik saja dan aku mengajaknya pergi kerumah nenek agar lekas pulih ingatannya. Sesampainya dirumah nenek, ayahku memang terlihat kebingungan. Namun nenek manghampiri lalu bercerita tentang diri nenek dan tempat ini.
Kini perjuanganku tidak lagi soal finansial lebih dari itu aku harus mampu memulihkan kondisi ayahku dan ini akan sama beratnya. Tidak hanya itu, perjuanganku saat ini memulangkan ibu kesini dan mempertemukan ibu dengan ayah. Meski untuk menyatukan mereka kembali aku rasa sangat tidak mungkin terjadi. Tetapi aku akan terus berusaha menyatukan mereka kembali.
Selang beberapa bulan
“Yah malam ini langit bertabur bintang dan mereka semua setia menemani rembulan, adakah ayah akan seperti bintang? Atau rembulan?”
“ayah akan menjadi dua-duanya, bahkan ayah akan menjadi mentari untuk menerangi perjuangan mu nak”
“yah aku takut jadi orang punya, aku takut seperti ayah yang ditinggalkan keluarga ayah sendiri”
“iya nak, kamu harus pandai-pandai dalam menata hidup ini”
“Pak ini teh hangatnya”
“terimakasih bu”
“Buat rehan mana bu?”
“dan ayah sangat beruntung memiliki kalian yang setia dalam keadaan apapun, meski sekarang ayah sudah tidak punya apa-apa lagi.
Pelukan hangat yang selalu kudamba selama ini. Kini dapat lagi kurasa. Alhamdulillah dengan ikhtiar dan doa perjuanganku tidaklah sia sia.
“nek, sepertinya rehan tidur nyenyak malam ini, bangunkan rehan di waktu tahajud ya!”
SELESAI