
Karya: Rifki Ulul Azmi
Pagi ahad yang cerah,
seperti biasanya aku harus melaksanakan tugas rutinku di tiap hari libur ini. Pakaian
yang kotor harus selesai ku cuci hari ini juga. aku rehan manusia yang besar tanpa belaian kasih kedua orangtua ku.
Mereka yang berpisah sejak aku belia, waktu itu aku berusia6 tahun. Usia yang
terlalu rentan menyaksikan pertengkaran kedua orangtua ku yang hampir setiap
hari ku saksikan itu dan pada akhirnya berujung perpisahan. Kini aku sudah
berhasil menginjakan langkahku di gelar alumni pada salah satu sekolah menengah
kejuruan swasta di kota ku. Aku berhasil lulus dengan hasil yang cukup
memuaskan. Mungkin ini bukanlah gelar yang teristimewa bagi sebagian orang
tetapi lain halnya dengan diri ku. Aku hidup dan dibesarkan oleh nenek ku,
beliau sudah sangat tua dan tidak memumgkinkan lagi untuk bekerja. Selama aku
sekolah dahulu, semaksimal mungkin aku tidak ingin menyusahkan nenekku yang
sudah susah payah memberiku makan, merawatku dan mendidikku.Saat ini nenekku
berusia 78tahun. Namun kesehatannya masih terjaga dengan baik, hal itu yang membuatku
selalu bersyukur dengan keadaanku saat ini.
Cahaya mentari perlahan
menghangatkan punggungku, rimbun daun kelapa pun enggan lagi meneduhkanku, ini
menandakan hari semakin siang. Namun pekerjaankubelum tuntas juga. Kini yang
harus ku cuci pakain nenekku, meski nenek dalam keadaan sehat tetapi ini adalah
bentuk terima kasihku kepadanya meski ini tak kan bisa membalas semua jasa-jasa
nenek selama ini setelah orang tuaku berpisah. Aku di serahkan kepada nenekku
setelah kejadian dasyat dirumahku yang membuat kedua orangtuaku berpisah. Aku
mulai tinggal di rumah nenekku setelah ibuku memutuskan untuk kerja di luar
negeri dan ayahku entah kemana perginya, sampai saat ini pun aku belum tahu keberadaan
ayahku dimana.Sedangkan ibu ku haya bisa pulang satu tahun sekali. Tentunya ini
sangat memberatkanku saat itu terlebih lagi baginenek ku.Selama aku sekolah aku
berusaha tidak terlalu menyusahkan nenek ku. Terkadang aku jualan gambar hasil kerja
tanganku sendiri kepada teman-temanku di kampung dan di sekolah. Kadang pula
aku berjualan makanan ringan ke teman temanku di sekolah, kadang juga aku pergi
memungut bersama mamangku. Pekerjaan itu aku jalani dengan penuh keikhlasan
karena keinginanlerasku untuk meringankan beban nenek.
Selagi tanganku sibuk
mencuci baju-baju kotor tadi, pikiranku terus berkutat pada kisah masa kecilku
yang penuh ironi. Sekarang aku sudah punya sediit modal dan hasil dari kerja
kerasku selama ini, selembar ijazah yang sedikit banyaknya dapat membantuku menaikan
tarap ekonomi keluargaku, sehingga nenek bisa tenang beribadah di hari tuanya
dan ibuku bisa kembali ke rumah tanpa harus pergi lagi keluar negeri. Meski aku
pun sadari bahwa nilai lulusan SMA di negeri ini tidak cukup di pandang baik,
tetapi selagi nafasku masih berhembus aku akan terus berikhtiar mencari kerja
yang layak. Hari-hari kemarin ku sibukan dengan mempersiapkan semua
berkas-berkas diriku sehingga dapat menunjang kemungkinan besar ku di terima di
suatu perusahaan. Besok pagi aku bermaksud memulai perjalananku mencari kerja
karena ini adalah jalan satu-satunya saat ini bagiku untuk dapat memperbaiki ekonomi
keluargaku.
“han dari tadi
belum beres-beres!” seketika terdengar suara perempuan paruh baya yang hendak
mengambil air. Karena memang selain di gunakan untuk mencuci pakaian mata air
ini juga di manfaatkan untuk minum sehari-hari warga kampung. letaknya tidak
jauh dari belakang rumah nenekku. “Iya bu, cuciannya lumayan banyak dari
biasanya bu” tungkasku, sambil terus tanganku sibuk dengan tugasnya. “mau ibu
bantuin?” ibu iis namamya, beliau tetangga terdekatku,beliau memang sangat baik
kepada nenek dan aku. Terkadang ketika nenek sedang tidak punya pangan untuk
makan hari ini, ibu iis ini yang suka membantu entah itu berupa makanan maupun uang.”eh
iya han, kemarin ibu sempat lihat bapak mu, walaupun ibu juga masih ragu dengan
penglihatan ibu saat itu” tentunya pernyataan bu iis itu cukup mengejutkamku. “oh
yaa.. Ibu liat Dimana?” sambutku dengan penuh penasaran. “Ibu liat di
persimpangan jalan yang mau kepasar itu.. Han” jelas bu iis, “oh disitu, iya
terimakasih bu atas infonya”. “iya han, semoga kamu bisa ketemu sama bapak lagi
ya” kalimat itu seolah membangkitkan keinginanku untuk bertemu bapak, “Ya udah,
ibu duluan ya” sambil mengangkat seember airnya lalu pergi dan hilang di telan
bilik-bilik penutup toilet umum ini.
~~||~~
![]() |
| Add caption |
Senin pagi yang
hujan, cuaca saat ini memang tak tentu. Namun tidak menyurutkan niatku untuk
mencari pekerjaan pagi ini. Dengan dibalut harapan yang kuat semoga di
perjalanan nanti aku bisa bertemu atau hanya sekadar melihat bapakku. Sementara
itu nenek sedang menyiapkan sarapanku walau hanya sekadar ubi rebus ini sudah
cukup bagiku untuk menamnah energiku pagi ini, “nek, hari ini rehan mau cari
kerja” ucapku sambil mengambil makanan yang sudah nenek sediakan. “iya han, semoga
kamu cepet dapat kerja ya, ingat harus cari pekerjaan yang halal” itu jawab
sekaligus nasihat dari nenek. tentunya itu yang akan selalu ku pegang selama
ikhriarku ini. Hujan pagi ini menghantarkan ku kepusat keramain kota, namun
sejajar dengan keberhasilanku sampai di pusat kota ini, usaha yang cukup
melelahkan di perjalanan tadi, di bawah hantaman hujan aku berusaha sekuat
tenaga untuk tidak basah kuyup begitu pun aku harus melindungi berkas-berkas
dalam tas ku agar tidak basah juga. Bermodalkan daun pisang sebagai alat peneduh aku
terus melangkah tak jarang juga aku berlari dan meneduh sejenak. Jarak rumah
nenekku dengan jalan raya cukup jauh sekitar satu kilometer. Dalam jarak itu
aku terus berusaha melangkah tanpa basah kuyup.
Manusia dari
berbaga latar belakang berkumpul disini dari berbagai profesi berada disini
tujuannya satu mencari menghidupan sehingga keluarganya di rumah hidup layak.
Begitupun dengan diriku yang sedang berusa mencari hal demikian, hidup layak
sehingga aku bisa membahagiakan nenek di hari tuanya. Langkahku belum berhenti
di pusat kota ini, bersyukur hujan reda semenjak aku menginjakan kaki di tempat
keramain ini. Setiap perusahaan yang kukira cocok di bidangku (marketing)
kujajaki surat lamaran dan menawarkan diri untuk bekerja di perusahaan itu. Satu
persatu perusahaan telah ku lewati namun apa daya belum ada yang mau menerima
lamaran ku. Namun masih ada harapan bagiku beberapa perusahaan yang aku masuki
tadi memilih untuk menunda lamaranku sehingga ketika nanti ada lowongan aku
bisa di hubungi lagi, dan untuk nomor pensel aku cantumkan nomor ponsel temanku.
Hari mulai siang tetapi aku masih enggan mengahkiri usahaku ini, aku tetap
berjalan hingga sampai di suatu perusahaan air mineral. Tanpa berpikir panjang
aku langsung menuju perusahaan itu dan berkonsultasi dengan bagian penerimaan
tamu untuk mengutarakan maksud dan tujuan ku kesini. Di tengah percakapanku,
aku melihat pria paruh baya dengan pakaian yang rapi di balut dengan dasi dan jas
hitam selaras dengan celana bahan hitam dan di bawahnya mengkilap sepatu kantor
yang hitam pekat, rambutnya rapih dengan tangan kiri membawa tas kerjanya
sedangkan tangan kanannya menggenggam ponsel yang ia letakan di sebelah telinga
kanannya, ia berjalan dengan tergesa-gesa, terlihat ia sangat terburu-buru,
sampai-sampai ia tak menghiraukan orang-orang di aekitatnya, wajahnya yang
panik sambil berbicara dengan ponselnya. Tentunya aku tidak begitu saja lupa
dengan sosok kedua orang tuaku terlebih ayahku. Meski sangat lama tidak
berjumpa sekitar 13 tahun lamanya, aku masih sangat ingat seluk beluk wajah
ayahku dan tidak salah lagi pria yang melintas dengan tergesa-gesa tadi itu
adalah sosok ayahku. Spontan aku langsung mengejarnya laluaku memanggilnya
“pak?” beliau mengatakan “maaf, kami
sedang tidak menerima lamaran kerja” tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, lalu
beliau masuk ke mobil yang sudah menantinya itu. Aku kembali ke tempat semula
dengan perasaan yang cukup kecewa dan bertanya kepada bagian penerimaan tamu
itu lebih baik bagiku saat ini untuk memastikan bahwa beliau memang benar ayah
ku. Setelah beberapa pertanyaan ku lontarkan, jelas susah siapa beliau dan
dugaanku benar tidak salah, beliau adalah ayahku dan beliau pemiliki saham
terbesar di perusahaan itu.
Kepedihan yang kualami
dalam hari-hariku selama ini, kesepian yang merenggut bahagiaku selama ini, dan
kerinduan yang menggelora dengan sosok sang ayah akan terlampiaskan sebentar
lagi. Mungkin esok hari aku akan benar-benar bertemu.
~~||~~
Hari ini adalah hari
yang kelima kalinya aku berusaha menemui ayahku. Hari-hari bersama hujan ku
lalui keberangkatan ku dari rumah. Seperti biasanya aku mengambil daun pisang
untuk ku jadikan alat peneduh perjalanannku. Rupanya hari ini pun aku tidak
melihat tanda-tanda bahwa ayahku ada disini. Setelah aku menaanyakan kebagian
penerimaan tamu, begitu terkejut sekaligus bahagianya aku ketika mendengar
jawaban bahwa ayahku ada di ruang kerjanya. Perjuanganku tidak sia-sia, “Alhamdulillah”
lirih dalam hatiku. Namun seketika setelah dihubungi “mohon maaf, pak indra sedang
tidak bisa di ganggu, beliau sedang sibuk” ucapan itu seakan memutar balikan
perasaanku. Tanpa menghiraukan perkataan itu, aku nekat menerobos masuk meski
aku tahu resiko yang akan aku alami dua orang satpam mengejarku dan coba
menghentikan langkahku, ku terus terobos semua yang menghalangiku, entah angin
dari mana aku bisa maauk tepat ruang kerja ayahku, padahal aku tidak tahu sama sekali
ruang kerjanya. Inilah mungkin insting seorang anak walau dalam keadaan panik
sekalipun. Sesampainya di ruangan itu, aku terdiam seketika yang kulihat
dihadapnku ini memang jelas sekali ini ayahku. Sedangkan dari samping kiri
kananku kedua satpam itu berusaha menarikku keluar. “sudah biarkan dia disini” kata
sang ayah. “Kamu bersikeras sekali ya, sudah saya bilang disini sedang tidak
ada lowongan kerja” sontak ucapan itu menundukan ku, “sebenarnya apa yang
terjadi? Apa ayah audah lupa aku, atau dia sengaja tidak ingin mengenaliku?”
berbagai pertanyaan terlontar di benakku. “AYAH” tak sengaja aku berucap.
“apa?” ucap ayahku sedikit terkejut. “aku rehan yah” jawabku. “siapa rehan?” tanyanya
yang keheranan. “aku anakmu, apakaulupa?” kini tidak ada jawaban sama sekali
yang ada beliau meremas-remas kepala dengan kedua tangannya. Ini menandakan
kalau beliau sedang dalam kesakitan. Aku coba mendekat dan menanyakan apa yang
sedang terjadi. Namun seketika beliau berucap “cukup” dengan nada kelakarnya.
Lalu beliau dengan suara lantangnya memanggil satpam tadi yang ternyata masih
berdiri dibaik pintu ruangan. “satpam!” masih dalam keadaan tangan
meremas-remas kepalanya. “tarik keluar dia” sambil menunjuk kearahku. Kedua
satpam itu menarikku keluar dan menyeretku kuluar kantor itu. Namun aku masih
ada harapan untuk kembai bertanya kebagian penerimaan tamu, setelah ku jelaskan
kepada kedua satpam itu akhirnya aku dipersilakan. Setelah beberapa pertanyaan
ku lontarkan, akhirnya aku mendapat jawaban yang sangat jelas. Bahwa ayahku Mengalami
kecelakaan yang sangat dahsyat sehingga benturan terhadap kepalanya membuat
ingatannya terganggu. Inilah yang membuat ayahku sukses saat ini karena pemberian
modal dari orang yang !enabraknya itu.
Aku pulang dengan beragam perasaan
yang bercampur dijiwaku.
“nek, rehan sudah
ketemu ayah tetapi dia tidak mengenalirehan nek” setelah panjang lebar aku
jelaskan akhirnya nenek paham seraya berucap “ iya han, rehan yang sabar, suatu
saat nanti pasti ayahmu akan pulih dan ingat kembali masa lalunya”. Nasihat itu
lagi lagi membangkitkanku “ iya nek”.
~~||~~
Hari ini adalah
hari ke enam kalinya aku ketempat ini. Ada yang berbeda dengan keadaan saat ini.
seharusnya aku di usir karena aku datang
kembali setelah kejadian itu. Namun pak satpam pun biasa saja. Aku sambut
positif hal ini, mungkin ini doa-doa yang selalu nenek panjatkan dalam
tahajudnya. Malahan pak satpam mempersilahkan aku masuk dan mengantarku masuk
keruang kerja ayahku. Tentunya ini hal yang sangat janggal bagiku. “silakan
duduk” ucap peria berkemeja putih ini. “maafkan saya atas kejadian kemarin,
sekararang tolong bantu saya untuk mengingat masa lalu saya!” setelah aku duduk
tenang. Aku paham keadaan ini, kejadian kemarin sedikit banyaknya berdampak
positif pada ingat ayahku. “tolong berceritalah nak!”, lalu aku coba ceritakan
rentetan kisah dan peristiwa yang pernah terjadi antara aku, ayah, ibu dan
keluargaku dahulu. Seusai bercerita sampai kami melewatkan beberapa jam duduk
bercerita di ruang kerja ayahku itu. Sedangkan ayahku kini baik-baik saja dan
aku mengajaknya pergi kerumah nenek agar lekas pulih ingatannya. Sesampainya
dirumah nenek, ayahku memang terlihat kebingungan. Namun nenek manghampiri lalu
bercerita tentang diri nenek dan tempat ini.
Kini perjuanganku
tidak lagi soal finansial lebih dari itu aku harus mampu memulihkan kondisi
ayahku dan ini akan sama beratnya. Tidak hanya itu, perjuanganku saat ini memulangkan
ibu kesini dan mempertemukan ibu dengan ayah. Meski untuk menyatukan mereka
kembali aku rasa sangat tidak mungkin terjadi. Tetapi aku akan terus berusaha
menyatukan mereka kembali.
Selang beberapa bulan…
“Yah malam ini
langit bertabur bintang dan mereka semua setia menemani rembulan, adakah ayah
akan seperti bintang? Atau rembulan?”
“ayah akan
menjadi dua-duanya, bahkan ayah akan menjadi mentari untuk menerangi perjuangan
mu nak”
“yah aku takut
jadi orang punya, aku takut seperti ayah yang ditinggalkan keluarga ayah
sendiri”
“iya nak, kamu
harus pandai-pandai dalam menata hidup ini”
“Pak ini teh
hangatnya”
“terimakasih bu”
“Buat rehan mana
bu?”
“dan ayah sangat
beruntung memiliki kalian yang setia dalam keadaan apapun, meski sekarang ayah
sudah tidak punya apa-apa lagi.
Pelukan hangat yang selalu kudamba
selama ini. Kini dapat lagi kurasa. Alhamdulillah dengan ikhtiar dan doa
perjuanganku tidaklah sia sia.
“nek, sepertinya rehan tidur nyenyak
malam ini, bangunkan rehan di waktu tahajud ya!”
SELESAI
